LAST
AND FOREVER MELODY
Length : short story
Written by : mutskyyy
Genre : Romance, Sad
Main Cast :
Mallory Simpson
Seth Jackson
Note :
This all about Molly and Seth, a first love story with a little real story and a little imagination.
We were both young when I
first saw you
I close my eyes and the flashback starts
I close my eyes and the flashback starts
“Pertama
ku melihat dia, hatiku berdebar sangat kencang. Aku tidak tahu perasaan apa
ini, namun aku menyukainya.” Seorang gadis berumur 10 tahun nampak sedang
memperhatikan seorang laki-laki yang 1 tahun lebih tua darinya. Gadis itu
tersenyum saat melihat sang anak lelaki itu. Mereka berdua sempat bertatapan
lama sekali sebelum sang gadis melihat ke arah yang lainnya.
***
Lelaki
berumur 13 tahun menghampiri bangku seorang perempuan yang berada di depan
bangkunya.
“Siapa
namamu?” tanya lelaki tersebut sambil mencoba melihat wajah si gadis karena si
gadis menunduk.
“Mallory
Simpson” jawab sang gadis dengan kepala tertunduk dan terbata-bata.
“Maukah
kau berteman denganku?” tanya lelaki yang bernama Seth.
“Itu...
tidak mungkin!” jawab Molly.
***
And I don't know how it
gets better than this
You take my hand and drag me head first
Fearless
You take my hand and drag me head first
Fearless
Festival
di adakan di kota tersebut dalam rangka memperingati ulang tahun kota tersebut,
semua sekolah wajib mengeluarkan arak-arakan yang telah dihias menjadi rapih
dan apik. Kala itu, Mallory dan Seth dipasangkan karena teman Mallory, Vasili
yang dengan semangatnya mengusulkan hal itu ke wali kelas mereka.
Saat
sedang berjalan melewati berjuta penonton yang melihat mereka, Mallory
menundukkan kepala menahan malunya.
“Tegakkan
kepalamu! Anggap saja mereka hanya berjuta rumput liar” ujar Seth sambil meraih
dagu Mallory dan diangkatnya dagu Mallory.
“A...aku
tidak bisa” kata Mallory.
Seth
meraih tangan Mallory dan menggenggamnya dengan erat. Mallory tersentak kaget
dengan perbuatan Seth ini dan berusaha melepaskannya.
“Biarlah
tetap seperti ini. Tegakkan kepalamu. Jika kau malu atau gugup, remat saja
tanganku ini” ujar Seth.
Entah
dari mana Mallory mendapat keberanian setelah perkataan Seth tadi. Dengan agak gugup, Mallory menegakkan pandangannya. Seth tersenyum saat melihat Mallory
menegakkan kepalanya.
Hampir
diakhir perjalanan, Mallory terpisah dari Seth karena barisan yang sudah tidak
beraturan. Mallory sangat amat lelah karena perjalanan ini hingga ia sempat
hampir pingsan dan sedikit gugup karena banyak mata memandangnya layaknya elang
yang melihat seekor burung kecil tak berdaya di tengah-tengah gurun pasir.
“Jangan
gugup. Aku ada di belakangmu” ucap sebuah suara yang datang dari belakang Mallory. Mallory kaget dan segera melihat kebelakang, terlihat Seth dengan
sedang berjalan persis dibelakangnya. Mallory tersenyum melihat Seth ada di
belakangnya.
“Aku
akan selalu menjagamu, jangan kuatir” ujar Seth.
Sejak
saat itu, mereka berdua menjadi dekat layaknya sepasang kekasih.
When you took me by
surprise
You
said 'I'll never leave you alone
***
People throw rocks at
things that shine,
But they can't take what's ours,
But they can't take what's ours,
Mallory
sedang duduk di kursi kantin bersama dengan sahabatnya, Vasili. Dari satu arah
terdengar gema yang sangat khas.
“Hai-ai-ai-ai”
teriak Seth yang langsung duduk di samping Mallory.
Mallory
terkikik pelan saat melihat Seth.
“Seth,
kau membuat kami malu. Kau ini!” ujar Vasili.
“Bukan
kami eoh! Tapi kau! Molly tidak malu denganku iya kan?” tanya Seth. Mallory
hanya tersipu dan mengangguk tanda ia setuju.
“Yak
Molly! Kenapa kau membela Seth? Aku tidak akan pernah mengerti kenapa kau
menyukai Seth!” ucap Vasili. Mallory hanya diam saja.
Seusai
sekolah, Seth seperti biasa latihan di lapangan sekolah, sementara Mallory
melihat Seth dari teras kelas yang berada di lantai dua menghadap langsung ke
lapangan basket. Semua siswa khususnya siswa perempuan mengerumuni lapangan
basket hanya untuk melihat idolanya. Seth termasuk salah satu dari 5 pria
paling populer di sekolah itu, tidak hanya penampilan yang tampan yang ia
miliki, namun kepintaran dan kepiawaiannya dalam bermain basket membuat Seth
menjadi bintang sekolah. Tidak seperti Mallory yang pendiam, pemalu. Mallory
tidak suka menonjol, bahkan walaupun ia dekat dengan Seth, ia tidak menunjukkan
itu di depan publik bukan karena ia takut akan dikeroyok habis-habisan oleh
para fans Seth melainkan ia tidak ingin menonjol.
Di
sela-sela melihat penampilan Seth di lapangan, Mallory menulis sebuah catatan
di buku diary miliknya.
Aku mencintainya bukan karena
kepopulerannya, bukan juga kepandaiannya maupun ketampanannya. Tapi aku
mencintainya karena dialah orang yang membuatku tertawa oleh lelucon-lelucon
garingnya, dialah yang membuatku untuk tidak menjadi pemalu, dialah Sethku.
“Molly,
apa yang sedang kau lakukan?” tanya Vasili.
“Tidak
ada” jawab Mallory dengan menutup buku diarynya dan membenarkan kacamatanya.
This is how it ought to be
Laughing on a park bench
Laughing on a park bench
***
'Cause I love the gap
between your teeth,
And I love the riddles that you speak,
And I love the riddles that you speak,
Mallory
duduk di bangkunya, sementara Seth sedang mempraktekkan cara bermain gitar
didepan kelas. Ia sangat piawai dalam bermain gitar, ia menyanyikan sebuah lagu
dengan hati yang sepenuhnya. Kepiawaiannya dalam memetik gitar membuat semua
siswa perempuan terhipnotis tidak terkecuali Mallory. Ia memandangi Seth dan
terjerumus dalam daydreamnya. Menurut Mallory, saat Seth tertawa dan menyanyi
itu adalah bagian yang sangat ia sukai karena Seth akan memperlihatkan kedua
gigi depannya yang besar dan bercelah. Mallory sangat amat menyukai kedua gigi Seth
tersebut.
***
Our song is the slamming screen door,
Sneakin' out late, tapping on your window
When we're on the phone and you talk real slow
'cause it's late and your mama don't know
Our song is the way you laugh
The first date: "Man, I didn't kiss her, when I should have"
And when I got home ... 'fore I said amen
Asking God if he could play it again
Sneakin' out late, tapping on your window
When we're on the phone and you talk real slow
'cause it's late and your mama don't know
Our song is the way you laugh
The first date: "Man, I didn't kiss her, when I should have"
And when I got home ... 'fore I said amen
Asking God if he could play it again
“Maukah
kau bernyanyi denganku?” tanya Seth.
Mallory
hanya menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat memerah akibat tawaran dari
Seth, namun ia tetap menerimanya dengan senang hati.
Seth, kau pernah bertanya kepadaku,
akan seperti apa lagu kita. Aku kini dapat menjawabnya. Lagu kita adalah saat
pertama kita bertemu di depan kelasku, saat aku dan kamu bernyanyi bersama dan
hingga akhir kita berpisah, itulah lagu kita. Dimana kita menghabiskan waktu
bersama, dimana aku memandangmu saat di sekolah.
Mallory
mendongakkan wajahnya memandang Seth yang ada di depannya dan menatap matanya,
mereka tersenyum berdua dengan pikiran mereka masing-masing. Sambil tersenyum
kepada Seth, Molly bergumam, Hanya
denganmulah aku dapat bernyanyi. Tanpamu Seth, aku tidak akan sepemberani
sekarang, bahkan aku mungkin tidak akan bernyanyi dan takkan pernah berani
untuk mencoba. Denganmulah aku berharap akan menghabiskan sisa waktuku,
denganmulah aku akan bernyanyi di sisa akhir hidupku.
***
Di
saat liburan musim gugur, Mallory berjalan-jalan di taman dengan sebuah pena di
tangannya kanannya dan buku di tangan kirinya, ia berjalan santai melewati
pohon-pohon willow yang daunnya sedang berguguran. Di ujung jalan, ia melihat
Seth keluar dari sebuah tempat makan, Mallory segera berlari sambil meneriakkan
nama Seth. Tiba-tiba ia berhenti saat ia melihat sesuatu yang sangat
mengejutkan.
“Seth....”
ucapnya lirih sambil terduduk di jalan dan menahan air mata yang telah
membanjiri pelupuk matanya.
Ia
melihat seorang gadis cantik menghampiri Seth dan terlhat sangat akrab
dengannya. Saat itu juga hati Mallory remuk. Ia segera pulang ke rumah dan
mengurung dirinya di kamar sambil menangis sehari semalam memikirkan hal itu.
Paginya
disekolah, Mallory sama sekali tidak menyapa Seth yang berjuta kali
mondar-mandir di depannya. Sethpun telah mengajak Mallory untuk membuka
percakapan, namun Mallory tetap mengacuhkannya. Dalam hati, Seth bertanya-tanya
apa yang terjadi kepada Mallory.
Hal
itu tetap terjadi hari demi hari berikutnya. Tidak ada satupun kata yang
terucap dari Mallory kepada Seth walaupun Seth telah mencoba berjuta cara untuk
memulai percakapan dengan Mallory.
Kau tahu Seth? Walaupun aku sangat
kecewa denganmu, namun dengan melihatmu rasa kecewa itu sirna. Walaupun aku
tahu kisah kita takkan berakhir dengan baik, dengan melihatmu, rasa sukaku
menjadi tambah semakin aku melihatmu. Otakku berkata untuk melupakanmu namun
aku tetap tidak bisa, karena semakin banyak aku melihatmu, rasa dihatiku
untukmu akan semakin banyak. Aku tidak dapat membantu ini semua, bagaimana jika
suatu saat kita tidak bertemu dalam waktu yang sangat lama? Akankah aku tidak
merindukanmu? Akankah aku dapat untuk tidak memikirkanmu? Aku tidak dapat
menjaminnya. Jika aku tiada nanti, biarlah kenangan dan rasa yang pernah ada
diantara kita tersimpan dalam hatiku selamanya. Jika dikehidupan selanjutnya
aku bertemu denganmu lagi, aku tidak akan pernah menyesal walaupun kau tetap
menyakitiku. Aku mencintaimu Seth, sekarang dan selalu. Hingga
suatu saat Mallory pindah dari sekolah itu dan menghilang dari kehidupan Seth.
***
Bertahun
tahun telah berlalu, Seth telah beranjak dewasa, ia berjalan-jalan di sekitar
sekolah lamanya dahulu sambil memikirkan kenangan-kenangan di masa sekolahnya.
Di sana, ia tanpa sengaja bertemu dengan Vasili.
“Apa
kau Seth?” tanya Vasili.
“Iya.
Kamu siapa ya?”
“Apa
kau tidak ingat denganku? Kita dulu satu sekolah” kata Vasili kecewa.
“tunggu
sebentar... Aha! Kau Vasili kan? Lama tidak bertemu denganmu. Bagaimana
kabarmu?”
“Baik.
Kau sendiri?”
“Baik
juga. By the way, apa kau akhir-akhir ini bertemu dengan Mallory?”
Seketika,
raut wajah Vasili mengkerut. Ia kemudian mengajak Seth ke suatu tempat yang
indah yang seperti sebuah panti asuhan modern. Seth bertanya tanya apa yang
sedang Vasili coba lakukan dan dimana gerangankah ia dibawa. Vasili tetap
melangkah ke sebuah ruangan dimana ada banyak sekali rak buku disana, ia
mengambil sebuah kunci dan membuka sebuah kotak besar yang berada di lantai, ia
mengambil sebuah buku cantik dari dalam kotak itu dan menyerahkannya kepada
Seth dan menyuruh Seth untuk membaca buku tersebut.
Beberapa
jam kemudian, setelah selesai membaca, Seth mulai menitikkan air matanya. Ia
tidak menyangka dengan apa yang telah ia baca.
“Ya,
itu adalah buku diary milik Mallory. Semua pertanyaanmu selama ini telah
terjawab bukan? Betapa cintanya ia kepadamu dahulu. Betapa sakitnya ia dahulu
walaupun ia dahulu tidak menampakkannya di depanmu, betapa menderitanya ia
setelah melihat kau bersama wanita lain. Saat ia kesakitan, ia akan mendengarkan
suaramu yang telah ia rekam sebagai obat penahan sakit yang menyerang tubuhnya.
Ia bahkan memikirkanmu hingga akhir hidupnya.” Ujar Vasili sambil menahan air
mata karena mengingat saat-saat terakhirnya bersama sang sahabat.
“Kau
mungkin dahulu percaya bahwa ia pindah sekolah karena orang tuanya pindah,
namun sebenarnya, penyakit Mallory sudah semakin memburuk dan ia harus diobati
di salah satu rumah sakit terbaik di Inggris. Kau tahu? Sehari sebelum operasi,
Mallory pernah kabur dari rumah sakit kemari hanya untuk melihatmu, namun ia
malah melihatmu bersama wanita lain dan tertawa dengannya, kemudian ia bertemu
denganku dan menangis. Ia menitipkan buku diarynya kepadaku dan menyuruhku
untuk menyimpannya.”
Flashback
on...
Mallory
dengan wajah pucat menghampiri Vasili di kediamannya.
“Molly,
ada apa denganmu? Kenapa wajahmu sangat pucat? Apa kau sakit?”
“Tidak
ada apa-apa. Aku merindukanmu” jawab Mallory sambil menangis.
“Vasili,
aku titip buku ini ya. Tolong kau simpan dengan baik-baik dan kau rawat” kata
Mallory.
“Apa
kau sudah bertemu dengan Seth?” tanya Vasili sambil menerima buku yang diberikan Mallory.
“sudah.
Ia telah bersama orang lain yang lebih baik dariku, aku sangat bersyukur” ucap
Mallory.
“
Maaf aku tidak bisa berlama-lama disini, aku harus pergi” kata Mallory.
Mallory
memeluk Vasili sangat erat sambil menangis hingga membuat heran Vasili. Vasili
yang risih berusaha untuk melepas pelukan Mallory.
“Biarlah
aku memelukmu seperti ini untuk beberapa menit lagi” ujar Mallory, namun Vasili
menolaknya.
“Jangan
menangis, aku tidak suka melihatmu menangis” bentak Vasili, namun Mallory hanya
tersenyum sebagai balasan.
“Aku mencintaimu Vasili,
aku sangat menyukaimu! Terimakasih karena mau menjadi sahabat terbaikku. Ah Aku
pasti akan merindukanmu” ujar Mallory sambil tersenyum.
Dan
itu terakhir kalinya Vasili bertemu dengan Mallory.
Flashback
off.
“Andai
hari itu aku membiarkan Mallory memelukku lebih lama, andai saat itu aku
menyadari tingkah aneh Mallory.” Isak Vasili.
“Kau
tahu apa cita-cita Mallory selama ini? Ia ingin menjadi penyanyi, namun
semenjak kau meninggalkannya, entah kenapa suara Mallory menjadi jelek tidak
seperti dahulu lagi. Namun, ia tidak menyesalinya. Ia pernah berkata kepadaku
bahwa kau adalah melodinya yang terindah”
Seth
menangis mendengar semua cerita dari Vasili, ia menyesali hari-hari itu. Andai
ia tidak meninggalkan Mallory, andai ia tetap memegang janjinya untuk menjaga
Mallory, mungkin akhirnya tidak akan menjadi seperti ini, namun Nasi telah
menjadi bubur, ia tidak akan pernah dapat mengubah masa lalu. Masa lalunya
dengan Mallory akan ia kenang hingga akhir hayatnya seperti Mallory. Jika
dikehidupan selanjutnya ia bertemu dengan Mallory kembali, ia berjanji akan
menjadi orang pertama yang akan mengenali Mallory dan akan menjaga Mallory, dan
tidak akan membiarkan Mallory menderita lagi.
THE END or TBC?
Comment:
Thank you so much for the someone yang telah menginspirasi dalam membuat cerpen ini. Mungkin aku telah membuat banyak cerpen tentang kita namun hanya ini yang dapat aku selesaikan. Terutama untuk Seth dan orang yang telah membuat tokoh Seth-Mallory di cerpennya yang tidak pernah terpublikasi.
Aku pun tidak tahu apakah kisah tentang Seth dan Molly akan sampai disini saja dengan ending yang begini atau kisah mereka masih terus berlanjut. Bagi para readers, menurut kalian kisah tentang Seth dan Molly apa akan berakhir disini atau masih terus berlanjut? Aku harap kisah mereka akan indah nantinya.
Sampai disini dahulu cerpen ini, lanjut atau tidak saya belum tahu. Jika ada kesamaan nama tokoh, saya mohon maaf itu tidak disengaja. Tapi jika anda merasa bahwa tokoh ini mirip anda, mungkin itu anda karena saya menulis 70% nyata dan 30% berasal dari imajinasi dan daydream saya selama ini. Selamat menjalani aktivitas readers. Have a good day! See you again!!! Bye bye.....
No comments:
Post a Comment